Furniture kayu berbasis bahan ramah lingkungan
Idealnya selesai menebang, mereka menanam lagi sehingga hutan mereka bertambah luas. Sangat jauh perbandingannya dengan hutan di Eropa dengan hutan di Indonesia yang justru semakin berkurang akibat perambahan hutan. Masyarakat Finlandia beranggapan kayu adalah mahluk hidup yang memiliki nyawa, memberikan kehangatan dan aura positif. Oleh karena itu tak heran furniture kayu mendominasi banyak ruang di Finladia.
Dari sinilah ia mulai berkreasi dengan bahan kayu limbah bekas peti kemas. Kebetulan, di dekat tempat tinggalnya di Depok, banyak perusahaan yang punya limbah peti kemas bekas kemasan barang-barang impor, seperti mobil, obat, dan lainnya.
Diakui Deri, kini semakin banyak pemain yang berbisnis furniture dengan material bekas peti kemas. Karenanya, saat ini materinya semakin sulit dicari. Tapi ia yakin, sepanjang orang Eropa masih mengirim barang ke Indonesia memakai kemasan kayu serupa, bahan baku akan tetap ada.
Terbatasnya bahan baku akibat diminati banyak orang itu, lantas mengubah cara berpikir Deri. Kini ia mulai menjadikan kayu peti kemas menjadi benda-benda seni. Ia pun saat ini turut membuat berbagai produk art seperti kap lampu yang nilai dan harganya lebih tinggi. Pengerjaannya pun juga lebih cepat, dan belum banyak pemain yang membuat produk sejenis.
"Kedepan harus lebih kreatif lagi dan memberi manfaat lebih luas lagi khususnya untuk kelestarian hutan Indonesia, serta jangan lupa tetaplah bahagia." Tuturnya.
